Frando Marton Tiran (243300020019)
UNIVERSITAS MPU TANTULAR
Dosen Pengampuh: Serepina Tiur Maida,
S.Sos.,M.Pd.,M.I.Kom
Apa itu Bullying?
Bullying atau perundungan merupakan tindakan
mengganggu, mengusik, atau menyakiti orang lain secara fisik atau psikis.
Tindakan ini bisa dalam bentuk bentuk kekerasan verbal,
sosial, atau fisik yang dilakukan secara berulang kali dan dari waktu ke waktu.
Secara etimologi, asal usul kata bullying berarti
penggertak, yaitu seseorang yang suka mengganggu yang lemah.
Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak (PPA), bullying adalah penindasan atau risak (merunduk)
yang dilakukan secara sengaja oleh satu orang atau sekelompok yang lebih kuat.
Tindakan ini dilakukan terus menerus dengan tujuan untuk
menyakiti.
Jenis-Jenis Bullying
Jenis-jenis
bullying banyak yang perlu kamu ketahui.
Menurut UNICEF, ada tiga karakteristik perilaku bullying,
yaitu disengaja, terjadi secara berulang-ulang atau untuk mendapatkan
kekuasaan.
Bukan itu saja, tindakan ini juga bisa dilakukan secara
langsung maupun online.
Bullying online alias cyber
bullying dapat terjadi lewat media sosial, pesan instan, email, dan
platform lain yang memungkinkan adanya interaksi.
Tindakan bullying juga terbagi menjadi enam
kategori, di antaranya:
1. Kontak fisik langsung
Perilaku bullying yang menyasar fisik
umumnya mudah diidentifikasi.
Tindakan ini meliputi memukul, mendorong, menggigit,
menjambak, mencubit, dan mencakar.
Mengunci seseorang dalam ruangan, memeras dan merusak barang
orang lain juga termasuk tindakan perundungan.
2. Kontak verbal langsung
Perundungan juga bisa berupa ancaman, merendahkan, mencela,
mengejek, memaki, mengintimidasi dan mengganggu.
Memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme dan
menyebarkan berita palsu juga termasuk bullying verbal.
3. Perilaku non-verbal langsung
Contoh bullying non verbal yaitu tatapan
sinis, menjulurkan lidah dan memperlihatkan ekspresi yang merendahkan,
mengejek, atau mengancam.
Namun, tindakan non verbal ini umumnya dilakukan bersama
tindakan fisik dan verbal.
4. Perilaku non verbal tidak langsung
Faktanya, perundungan juga bisa terjadi secara non verbal
tidak langsung.
Contohnya yaitu memanipulasi persahabatan sehingga menjadi
retak, mengucilkan atau mengabaikan secara sengaja atau mendiamkan
seseorang.
5. Cyber bullying
Di era yang serba teknologi seperti sekarang, tindakan bullying juga
marak terjadi secara online.
Contohnya dengan membuat video atau konten lainnya yang
mengintimidasi seseorang lewat media sosial.
6. Pelecehan seksual
Pelecehan seksual juga salah satu bentuk tindakan bullying.
Perilaku ini bisa berupa agresi fisik atau verbal.
Agresi merupakan perilaku yang dilakukan secara sengaja
untuk menyebabkan kerusakan fisik atau mental seseorang.
7. Perundungan emosional
Hal ini terjadi ketika seseorang berusaha mendapatkan apa
yang mereka inginkan, tetapi dengan cara membuat orang lain (korban) merasa
marah, takut, cemas, hingga tidak nyaman.
Perundungan emosional dapat menyebabkan gangguan kesehatan
mental pada korbannya.
Contoh perundungan emosional seperti mengejek, menggoda,
mengancam, meremehkan, berbohong, hingga mempermalukan korban.
Efek yang bisa ditimbulkan dari bullying ini tidak boleh
disepelekan karena dapat mengganggu kondisi mental, terlebih apabila terjadi
pada anak-anak.
Bedanya Ejekan dan Bullying
Seringkali, orang tua maupun anak tidak bisa membedakan
ejekan dan bullying.
Meskipun keduanya sama-sama hal negatif, berikut perbedaan
antara ejekan dan tindakan bullying:
1. Ejekan
- Dilakukan
untuk kesenangan semata.
- Bentuknya
verbal, seperti mencaci-maki atau mengejek soal pakaian.
- Meniru
tindakan untuk tujuan mengejek.
- Tidak
melakukan intimidasi.
- Cenderung
tidak berulang-ulang
2. Bullying
- Untuk
menunjukan kekuasaan
- Bentuknya
beragam, bisa berupa tindakan fisik, sosial, verbal, cyber.
- Melibatkan
ancaman dan intimidasi agar korban patuh.
- Dilakukan
berulang-ulang.
- Menyebabkan
cedera fisik dan psikologis.
Penyebab Bullying
Ada sejumlah faktor
penyebab bullying yang membuat seseorang rentan
mengalami bullying maupun menjadi seseorang yang melakukan
perundungan.
Berikut sederet faktor risikonya:
1. Penyebab korban bullying
Ada beberapa penyebab yang membuat seseorang berisiko
menjadi korban bullying, seperti:
- Korban
memiliki kekurangan dalam aspek fisik maupun psikologis sehingga merasa
dikucilkan.
- Kurang
pandai dalam berkomunikasi.
- Kurang
mampu untuk membela diri.
- Memiliki
percaya diri yang rendah.
- Memiliki
sedikit teman.
2. Penyebab pelaku bullying
Selain itu, orang tua juga perlu tahu beberapa kondisi yang
berisiko meningkatkan anak menjadi pelaku bullying, seperti:
- Memiliki
kontrol diri yang rendah dan tidak memiliki perasaan bertanggung jawab
atas tindakan yang dilakukan.
- Melakukan bullying sebagai
bentuk balas dendam.
- Pernah
menjadi korban kekerasan sebelumnya sehingga dirinya selalu merasa
terancam.
- Selalu
ingin mengontrol dan mendominasi.
- Sulit
menghargai orang lain.
- Tinggal
di keluarga yang sering bertengkar dan melakukan kekerasan.
- Bergaul
dengan teman sebaya yang menjadi supporter atau penonton tindakan bullying.
- Lemahnya
pengawasan di sekolah.
- Media
massa yang sering menampilkan tindak kekerasan.
Tanda-Tanda Bullying
Tanda-tanda bullying perlu
diketahui sebagai langkah pecegahan. Anak-anak dan remaja adalah
kelompok usia yang rentan mengalami perundungan.
Oleh sebab itu, orang tua perlu mengawasi dan memberikan
perhatian penuh terhadap anak.
Berikut ciri-ciri anak yang menerima bullying:
- Tidak
semua anak bisa terbuka tentang tindakan perundungan yang mereka dapatkan.
Oleh sebab itu, orang tua perlu mengamati keadaan emosinya. Anak yang
mengalami bullying umumnya selalu gelisah, cemas dan
waspada.
- Mengalami
tanda-tanda kekerasan fisik, seperti memar, luka, goresan maupun bekas
luka yang tidak biasa.
- Enggan
atau takut pergi ke sekolah maupun mengikuti acara sekolah.
- Kehilangan
teman secara riba-tiba atau selalu menghindari situasi sosial.
- Hilang
atau rusaknya barang elektronik, pakaian atau barang-barang pribadi
lainnya.
- Kerap
meminta uang untuk alasan yang tidak jelas.
- Menurunnya
prestasi akademik di sekolah.
- Sering
membolos atau meminta pulang dari sekolah.
- Selalu
ingin berada di dekat orang dewasa agar merasa aman.
- Tidur
tidak nyenyak atau bahkan mengalami mimpi buruk.
- Mengeluh
sakit di bagian perut, kepala atau bagian tubuh lainnya.
- Merasa
tertekan setelah menggunakan gawai atau komputer.
- Menjadi
tertutup atau seolah-olah menyimpan rahasia.
- Menjadi
agresif atau memiliki ledakan kemarahan yang tiba-tiba
Dampak dari Bullying
Dampak bullying bukan
cuma menyasar korbannya, tetapi juga pem-bully maupun mereka yang menonton
tindakan ini.
Tindakan ini memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan
fisik maupun mental anak.
Pada kasus yang berat, bullying bisa menimbulkan depresi
bahkan mendorong tindakan.
Berikut dampak yang perlu diwaspadai:
1. Dampak untuk korban
Berikut beberapa dampak bullying pada korban, seperti:
1. Fisik
Korban bullying dapat mengalami beberapa
efek samping pada kesehatan secara fisik.
Contohnya, seperti sakit kepala, nyeri otot, sakit perut,
perubahan berat badan, hingga penurunan imun tubuh.
Tentunya kondisi ini berisiko meningkatkan beragam penyakit
atau gangguan kesehatan.
2. Gangguan mental
Bukan hanya fisik, dampak bullying juga
berisiko menyebabkan gangguan pada kesehatan mental.
Mulai dari gelisah, cemas, merasa takut setiap waktu, lebih
mudah marah, hingga depresi.
3. Akademik
Bullying juga dapat memengaruhi kondisi akademik
seseorang.
Mulai dari menurunkan kemampuan analisis, memengaruhi fokus
dan perhatian, hingga menurunkan produktivitas.
Jika anak mengalami perubahan dalam akademik secara drastis,
sebaiknya orang tua jangan abaikan kondisi tersebut.
4. Gangguan hubungan sosial
Bullying juga berisiko menyebabkan dampak
negatif pada hubungan sosial seseorang.
Biasanya, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan rasa
percaya pada orang lain hingga kesulitan untuk bersosialisasi.
5. Penurunan kualitas hidup
Korban bullying juga dapat mengalami
penurunan kualitas hidup.
Penurunan rasa percaya diri, penggunaan obat terlarang,
serta keinginan untuk melukai diri sendiri menjadi kondisi yang berisiko
terjadi akibat bullying.
2. Dampak untuk pelaku
- Berperilaku
agresif dan impulsif.
- Memiliki
rasa percaya diri dan harga diri yang tinggi.
- Tidak
takut untuk melakukan kekerasan.
- Berwatak
keras.
- Selalu
ingin mendominasi orang lain.
- Kurangnya
rasa empati dengan orang lain.
- Dengan
melakukan bullying, mereka merasa punya kekuasaan.
- Mudah
marah.
- Berpotensi
menjadi kriminal.
- Bersikap
kasar.
- Berisiko
tersangkut masalah hukum.
3. Dampak bagi mereka yang menyaksikan
- Trauma.
- Merasa
menjadi pribadi yang buruk.
- Merasa
tertekan.
- Stres.
- Ketakutan.
- Merasa
bersalah.
- Sering
menghindari masalah.
- Cemas.
·
Hubungi Dokter Ini Jika Anak Mengalami Bullying
·
Bullying pada anak bisa menimbulkan efek
buruk bagi kondisi fisik maupun mentalnya.
·
Jika Si Kecil mengalami perundungan jangan ragu untuk menghubungi
psikolog anak di Halodoc.
·
Mereka bisa memberikan saran yang tepat terkait cara menghadapi bullying
yang dialami anak.
·
Jangan khawatir, konseling di Halodoc aman
dan privasi pasti terjaga.
Cara Mengatasi Bullying
Salah satu cara
mengatasi bullying dengan menggunakan intervensi pemulihan
sosial (rehabilitasi).
Ini merupakan proses intervensi yang memberikan gambaran
jelas pada pelaku perundungan bahwa tindakannya tidak bisa dibiarkan.
Berikut cara mengatasi bullying pada anak
yang perlu orang tua lakukan:
1. Coba lebih dekat dengan anak
Salah satu peranan besar dari kasus bullying adalah
cara pola asuh orang tua.
Usahakan orang tua menerapkan pola asuh yang disesuaikan
dengan kebutuhan emosional anak.
Cobalah dekati anak dan bangun komunikasi yang lebih baik
serta positif.
Tujuannya agar anak mau lebih terbuka, sehingga orang tua
lebih mudah mengidentifikasi sumber masalah yang memicu perilaku bullying.
2. Bantu anak dalam mengendalikan stres
Anak-anak cenderung tidak tahu bagaimana cara yang tepat
untuk mengendalikan stres.
Jika tindakan bullying yang anak lakukan
adalah cara mereka untuk melampiaskannya, sebaiknya orang tua wajib mengajari
mereka tentang mengendalikan stres.
Caranya bisa dengan mengajak mereka untuk berkegiatan
positif, seperti berolahraga, menghabiskan waktu bersama orang tua atau
melakukan kegiatan lain yang disukai.
3. Awasi penggunaan gadget
Orang tua juga perlu membatasi pemakaian gadget pada
anak. Pastikan pula, ayah dan ibu bisa mengawasi konten apa saja yang bisa ia
tonton.
Jangan sampai, anak menonton konten yang berbahaya atau
tidak sesuai usianya. Hal ini bisa membuat dirinya melakukan tindakan bullying.
Orang tua bisa memanfaatkan fitur filter pada aplikasi
terkait untuk memilih konten-konten yang aman dan sesuai usia anak.
4. Disiplinkan anak tanpa kekerasan
Jangan ragu untuk mendisiplinkan anak segera jika ia
menunjukan tindakan bullying.
Namun, dilarang mendisiplinkan mereka dengan cara kekerasan.
Gunakan cara yang positif, seperti membiasan anak dengan
rutinitas, memberi penjelasan tentang konsekuensi apabila membuat kesalahan dan
memberi pujian jik berperilaku baik.
Karena perilaku perundungan kerap terjadi di sekolah,
berikut hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru, orang tua maupun teman
sebayanya:
- Guru
wajib menanggapi kejadian tersebut dengan serius.
- Hargai
dan berterima kasih kepada siswa yang telah melapor.
- Yakinkan
korban bahwa tindakan yang ia dapatkan bukan salahnya.
- Tunjukkan
rasa empati.
- Bantu
korban agar mampu membela dirinya sendiri.
- Tawarkan
pada anak tentang untuk membuatnya merasa aman.
- Bicara
kepada setiap anak yang terlibat dalam tindakan bullying secara
terpisah. Sebisa mungkin jangan menyalahkan, mengkritik, atau meneriakinya
di depan wajah mereka. Dorong mereka untuk jujur dan hargai kejujurannya.
- Ambil
tindakan tegas untuk pelaku bullying. Beritahu anak tersebut,
orang tuanya, dan kelas terkait perkembangan kasusnya.
- Tindak
lanjuti pelaku mengenai kemajuan yang dibuat sesudahnya.
- Jangan
ragu untuk meminta bantuan pihak eksternal apabila dampaknya sangat
signifikan.
Cara Mencegah Bullying
Pencegahan bullying bisa
dilakukan dengan membicarakan dengan anak seputar apa yang mereka anggap
sebagai perilaku baik dan buruk di sekolah, di lingkungan sekitar maupun di
media sosial.
Pastikan orang tua memiliki komunikasi terbuka dengan anak
supaya mereka merasa nyaman memberi tahu apa pun yang terjadi dalam hidupnya.
Lakukan pencegahan bullying secara
menyeluruh dan terpadu. Langkah preventif ini bisa mulai dari anak, keluarga,
sekolah maupun masyarakat.
1. Pencegahan melalui anak
Ajari anak agar mampu mendeteksi potensi terjadinya bullying sedini
mungkin.
Dorong mereka agar bisa melawan tindakan perundungan yang
menimpanya.
Berikut cara yang bisa ibu lakukan untuk mencegah bullying
dalam keluarga:
- Hindari
kelompok yang suka merundung.
- Ajarkan
anak untuk memilih kelompok bermain yang tepat.
- Kenalkan
anak pada orang dewasa yang bisa membantu mereka saat mengalami
perundungan. Misalnya, guru atau pendamping pada lokasi tertentu.
- Ajarkan
anak untuk mengolah emosi saat mengalami perundungan.
- Minta
anak untuk selalu terbuka dan bercerita mengenai segala bentuk perundungan
yang terjadi.
2. Pencegahan dari keluarga
Keluarga bisa melakukan beberapa pencegahan untuk
menghindari anak dari perundungan, seperti:
- Perkuat
pola asuh yang mengajarkan cinta kasih kepada sesama dan menanamkan
nilai-nilai keagamaan.
- Bentuk
lingkungan yang penuh kasih sayang dan aman.
- Bangun
rasa percaya diri anak.
- Pupuk
rasa keberaniannya.
- Tanamkan
ketegasan dalam dirinya.
- Ajarkan
etika dan gugah rasa empatinya supaya anak bisa menghargai dan peduli
terhadap sesama.
- Jangan
ragu untuk memberikan teguran saat ia melakukan kesalahan.
- Selalu
dampingi anak dalam menyerap informasi dari televisi, internet dan media
elektronik lainnya.
3. Pencegahan di sekolah
Berikut tindakan preventif bullying yang
bisa dilakukan sekolah:
- Membuat
sistem pencegahan berupa pesan kepada murid, bahwa sekolah tidak menerima
perilaku bully di sekolah dan membuat kebijakan “anti
bullying”.
- Bangun
komunikasi efektif antara guru dan murid.
- Rutin
membuka ruang diskusi dan ceramah mengenai perilaku bully di
sekolah.
- Ciptakan
suasana lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan kondusif.
- Menyediakan
bantuan kepada murid yang menjadi korban bully.
- Melakukan
pertemuan berkala dengan orangtua atau komite sekolah.
- Mengajarkan
anak-anak mengenai dampak negatif dari bullying.
- Tingkatkan
kepercayaan diri anak-anak dengan memberikan dukungan pada anak.
- Pastikan
guru memberikan contoh pada murid dengan menghargai seluruh anggota
sekolah.
- Ingatkan
pada murid untuk selalu membantu dan memberikan perlindungan pada
korban bullying.
- Ajak
murid untuk banyak melakukan kegiatan positif yang mereka sukai.
4. Pencegahan di masyarakat
Salah satu contohnya dengan membangun kelompok masyarakat
yang peduli terhadap perlindungan anak, mulai dari tingkat desa atau kampung.
Dalam masyarakat ada beberapa hal yang bisa berguna sebagai
pencegahan, seperti:.
- Ajarkan
kelompok muda untuk melakukan berbagai kegiatan sosial.
- Membangun
kelompok masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak. Caranya bisa
dimulai dari tingkat desa/kampung (Perlindungan Anak Terintegrasi Berbasis
MAsyarakat : PATBM).
Berbagai tindakan sebagai langkah pencegahan perlu anak-anak
kenal sejak dini.
Hal ini karena tindakan perundungan dapat terjadi kapan
saja. Lalu, bullying bisa terjadi dimana saja?
Tindakan tidak terpuji ini bisa terjadi pada lingkungan
sekolah, pekerjaan, keluarga, hingga pertemanan.
Jadi, sebaiknya pastikan anak-anak mengetahui dampak
spesifik bagi korban maupun pelaku.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar