Frando Marton Tiran (243300020019)
UNIVERSITAS MPU TANTULAR
Dosen Pengampuh: Serepina Tiur Maida, S.Sos.,M.Pd.,M.I.Kom
.jpg)
Ketika kita melihatnya sebagai suatu kenyataan; Das Sein adalah
cara kita mensiasati kebutuhan atau keinginan kita, apakah dengan pergi ke
warung, mini market, order online, membeli tunai, "bank emok" atau
fintech alias pinjol.
Ketika kita melihatnya sebagai peristiwa yang terjadi
sehari-hari adalah cara para pelajar dan mahasiswa kita menyelesaikan
tugas-tugas mereka, apakah dengan membaca buku, berdialog dengan AI dan
menjadikan Google sebagai teman diskusi, menulisnya sendiri, atau menumpulkan
daya kreatifnya dan menyerahkan semuanya kepada AI dan Google?
Budaya membaca Indonesia, misalnya saja, dapat dilihat dari
skor PISA 2022 yang diumumkan OECD akhir tahun lalu, menempatkan Indonesia di
peringkat 68 dari 81 negara.
Bahkan, dalam riset Central Connecticut State University
2016 lalu, Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal budaya
membaca, memang masih lebih tinggi dari Botswana yang menempati posisi paling
bontot.
Meski males baca, orang Indonesia ternyata lumayan cerewet
di media sosial. Berdasarkan data World Population Review 2024, dengan pengguna
media sosial sebanyak 167 juta, Indonesia menempati posisi ke-4 tertinggi di
dunia, di bawah Cina, India dan Amerika Serikat.
Budaya juga adalah cara kita menghibur diri atau mengisi
waktu senggang, merayakan momentum, bahkan berduka. Budaya adalah cara kita
menyelesaikan masalah, perselisihan dan keributan.
Budaya bukanlah apa yang kita daku sebagai budaya kita,
tetapi apa yang kita pikirkan ketika menghadapi sesuatu, dan apa yang biasanya
kita lakukan setelah itu.
Seandainya kita akan menggunakan definisi budaya yang pada
umumnya kita gunakan, yang berasal dari kata 'buddhayah', jamak dari kata
'budhi' yang berarti akal atau pikiran, maka silahkan tanya diri masing-masing,
apa yang kita pikirkan sehari-hari?
Budaya masyarakat perkotaan tentu berbeda dengan budaya
masyarakat pedesaan dan masyarakat adat. Jika kita berbicara tentang kebudayaan
Indonesia yang meliputi desa, kota, belantara hutan dan pinggiran pantai, maka
kita bicara tentang setidaknya siasat manusia Indonesia dalam menjalani
kehidupannya sehari-hari di berbagai ruang hidupnya tersebut.
Bagi masyarakat yang tinggal di hutan, keberlanjutan
ekosistem hutan boleh jadi hal penting, tapi bagi masyarakat perkotaan, laju
deforestasi mungkin bukan masalah penting dan tidak berpengaruh banyak terhadap
pola hidup dan konsumsi mereka, meski banyak orang mengaku jika beberapa bulan
terakhir ini cuaca terasa lebih panas daripada biasanya dan hujan tetap kerap
diiringi banjir.
Perlindungan hutan bagi masyarakat yang tinggal di hutan
sama artinya dengan perlindungan budaya; sementara bagi masyarakat perkotaan,
keduanya bisa jadi punya arti yang berbeda.
Frasa "perlindungan hutan" dan "perlindungan
budaya" boleh jadi memang akan punya pengertian dan manifestasi yang
berbeda-beda, tergantung siapa yang berbicara untuk kepentingan siapa.
Jika kita bertanya seperti apa budaya Indonesia, jawabannya
tidak hanya tersedia pada gulungan naskah lontar atau relief candi, tapi juga
catatan transaksi keuangan, laporan PPATK, analisis Google trend atau laporan
perilaku digital masyarakat kita.
Di tengah tumpukan wacana pelestarian budaya masa lalu,
tidak ada salahnya sedikit meluangkan waktu merancang budaya seperti apa yang
hendak kita wariskan ke masa depan.
Sumber: 1) Presentasi Ibu Serepina Tiur Maida, S.Sos.,M.Pd.,M.I.Kom, 2024; 2) Pengantar Sosiologi, Warmiyana Zairi Absi, S.H.,M.H.2023

super sekali abangda
BalasHapusMasih Abang
Hapusmantapp
BalasHapusMakasih Abang
HapusMantap...
BalasHapusmakasih abang....
BalasHapuskeren bang
BalasHapus